Pernah gak sih? ketika kita sedang scroll media sosial di waktu senggang terus ada meme yang nongol dan relate dengan kehidupan kita sehari hari yang bernarasi:
“Koe gapopo cerita tentang aku, ngerasani aku gapopo, tapi ojo ngarang, aku pas krungu kaget lho, ‘aku to kui?’ mosok aku asing karo aku? pendak aku krungu ceritako kok elek tenan.”
Kalimat dalam sindiran khas bahasa Jawa tersebut mendadak viral bukan tanpa alasan. Meme ini menyentuh realitas emosional yang pernah dialami banyak orang: momen ketika kita mendengar cerita tentang diri kita sendiri dari mulut orang lain, tetapi narasi itu sudah diputarbalikkan sedemikian rupa hingga terasa asing. Ada rasa heran sekaligus menggelitik ketika seseorang yang kita kenal tiba-tiba menciptakan “versi fiktif” tentang diri kita, sebuah versi yang jauh lebih buruk, penuh manipulasi, dan berjarak sangat jauh dari kenyataan. Kita yang mendengarnya hanya bisa bertanya-tanya, “Memangnya sejahat itu ya aku di mata cerita buatanmu?”
Namun jika kita tarik garis lebih jauh, fenomena “ngerasani sambil ngarang cerita” ini sejatinya bukan sekadar lelucon media sosial atau perkara gosip lokal biasa. Jauh sebelum era digital dan meme internet lahir, tabiat manipulatif ini telah disorot secara tajam dalam ajaran Islam sebagai bentuk penyakit moral yang sangat membahayakan.
Rasulullah SAW secara spesifik menggambarkan karakter orang yang bermuka dua:
“Engkau akan temukan orang paling jahat, seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi suatu kaum dengan satu wajah, dan mendatangi kaum yang lain megenakan wajah yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa individu bermuka dua (Dzawul Wajhain) sampai dikategorikan sebagai syarron naas atau seburuk-buruknya manusia?
Jawabannya terletak pada kepalsuan dan potensi kerusakannya. Orang bermuka dua bekerja ibarat bunglon sosial yang memanipulasi kepercayaan. Di depan Pihak A, ia tampil sebagai sosok yang paling suportif, ramah, dan penuh simpati. Namun begitu melangkah ke kelompok Pihak B, ia mengenakan topeng yang sama sekali berbeda menjual informasi rahasia Pihak A, bumbu-bumbu kebohongan, hingga prasangka buruk.
Inilah alasan mengapa orang dengan tabiat seperti ini tidak layak dijadikan pasangan, tidak layak dijadikan teman, tidak layak dijadikan partner bisnis, dan tidak layak juga dijadikan tempat berinteraksi. Dalam ikatan pernikahan, mereka merusak kejujuran; dalam pertemanan, mereka mengkhianati kerahasiaan; dalam bisnis, mereka menciptakan intrik toksik yang menghancurkan integritas tim.
Dampak buruk ini semakin dipertegas dengan peringatan keras mengenai perilaku lanjutan dari si muka dua, yaitu adu domba (namimah):
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim nomor 151)
Mengadu domba bukan sekadar membicarakan keburukan orang lain (ghibah), melainkan menyebarkan cerita baik nyata maupun hasil rekaan dengan niat sengaja meretakkan hubungan antarmanusia. Ancaman “tidak masuk surga” menegaskan betapa besarnya dampak destruktif dari perilaku ini. Adu domba merobek ikatan persaudaraan, menghancurkan rasa saling percaya, dan menanamkan benih permusuhan yang sering kali sulit disembuhkan.
Ketika Doktrin Moral Berjabat Tangan dengan Sains Modern
Uniknya, apa yang telah diperingatkan oleh ajaran agama berabad-abad lalu kini terkonfirmasi secara gamblang dalam kajian psikologi sosial dan sains perilaku organisasi modern. Di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan ini, fenomena bermuka dua dan mengadu domba semakin sering mengemuka di bawah payung konsep ilmiah yang dikenal sebagai social incivility (ketidaksopanan sosial).
Secara definisi ilmiah, incivility merujuk pada sifat alami manusia yang terkadang dilakukan secara sadar, terkadang di bawah kesadaran untuk mempersulit, meremehkan, atau merusak kenyamanan hidup orang lain. Berbeda dengan agresi fisik atau kekerasan terbuka, social incivility bekerja secara halus, pasif-agresif, dan sering kali terbungkus dalam norma kesopanan buatan.
Mengapa sains menganggap ini penting? Karena di balik perbuatannya, ada paradoks yang membingungkan sekaligus menarik untuk ditelaah: pelaku sering kali menguras energi hanya untuk mempersulit orang lain, padahal korban tidak pernah merugikan kehidupannya sama sekali.
Memahami Social Incivility: Perilaku, Sikap, Kebiasaan, atau Sifat?
Social incivility pada dasarnya adalah sebuah perilaku (behavior). Namun, jika dilihat dari akar dan perkembangannya, hal ini bisa menjadi bagian dari sikap, sifat, maupun habit. Berikut adalah klasifikasi bagaimana ketidaksopanan sosial ini dipandang dari ketiga aspek tersebut:
Sebagai Sikap (Attitude) – Cara Pandang
Social incivility berawal dari respons atau penilaian mental internal seseorang terhadap lingkungan serta orang-orang di sekitarnya. Ketika seseorang memelihara cara pandang bahwa orang lain inferior, tidak berharga, atau pendapatnya tidak penting, sikap acuh tak acuh dan meremehkan pun lahir. Sebagai contoh, seorang rekan kerja yang secara mental menganggap pendapat temannya tidak berbobot akan menunjukkan gestur acuh tak acuh dan memandang sebelah mata setiap kali rekan tersebut berbicara.
Sebagai Habit (Kebiasaan) – Perilaku Berulang
Seiring berjalannya waktu, tindakan ketidaksopanan yang dibiarkan tanpa teguran akan bertransformasi menjadi habit atau kebiasaan berulang. Perilaku ini kemudian dilakukan secara otomatis tanpa refleksif berpikir panjang. Contoh sederhananya adalah kebiasaan memotong pembicaraan orang lain atau bermain ponsel saat diajak bicara (phubbing). Pelaku sering kali tidak lagi menyadari bahwa tindakannya kasar dan merugikan orang lain karena gestur tersebut sudah mengendap menjadi pola kebiasaan harian.
Sebagai Sifat (Trait) – Karakter Kepribadian
Jika ketidaksopanan sosial ini dilakukan secara konsisten lintas situasi, waktu, dan kepada siapa saja, incivility telah mendarat menjadi sebuah sifat (trait) kepribadian yang melekat. Pada tahap ini, perilaku kasar, sinis, egois, dan tidak peka telah menjadi karakter dasar individu tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang dalam kondisi apa pun selalu mencari celah untuk meremehkan, menyindir, dan bersikap dingin terhadap orang lain telah menjadikan ketidaksopanan sebagai identitas kepribadiannya.
Apakah Social Incivility Termasuk Gangguan Jiwa, NPD, atau ASPD?
Secara klinis psikiatri, Social Incivility bukan merupakan gangguan jiwa (mental disorder). Incivility adalah bentuk perilaku sosial (social behavior) atau pelanggaran etika berinteraksi. Seseorang yang secara mental sehat pun bisa bersikap incivil atau bermuka dua akibat tekanan lingkungan, insecurity, atau kebiasaan toksik yang terbiasa dibiarkan.
Namun, hubungannya menjadi sangat erat ketika kita melihatnya dari kacamata gangguan kepribadian (personality disorders):
- Keterkaitan dengan NPD (Narcissistic Personality Disorder): Meskipun incivility bukan NPD itu sendiri, penderita NPD sangat sering memanifestasikan perilaku social incivility tingkat berat. Individu dengan NPD memiliki kebutuhan obsesif akan dorongan ego, haus validasi, dan merasa paling superior (grandiose), namun sangat minim rasa empati. Mereka mengarang cerita fiktif, bermuka dua, dan menjatuhkan karakter orang lain demi menjaga citra diri mereka agar tetap terlihat paling bersinar.
- Keterkaitan dengan ASPD (Antisocial Personality Disorder): Demikian pula dengan ASPD (yang mencakup sosiopati dan psikopati). Penderita ASPD ditandai dengan pola pengabaian total terhadap hak orang lain, tidak memiliki norma moral, serta ketiadaan rasa bersalah (remorse). Ketika orang dengan ASPD melakukan adu domba (namimah) atau bermuka dua, social incivility tersebut bukan lagi sekadar kebiasaan buruk, melainkan gejala/manifestasi dari gangguan kepribadian ASPD yang sengaja memanipulasi orang lain demi kepuasan atau keuntungan pribadi.
Di Mana dan Seperti Apa Social Incivility Sering Muncul?
1. Akar Psikologis: Mengapa Orang Bermuka Dua?
Mengapa seseorang rela menguras energi untuk mengarang cerita, melempar gosip palsu, atau bersikap bermuka dua padahal tindakan tersebut tidak membawa keuntungan finansial maupun reputasi bagi dirinya? Sains psikologi mengungkap beberapa mekanisme mendalam di balik keganjilan ini:
Pertama, fenomena ini berakar dari kebutuhan psikologis dasar yang tidak terpuaskan (unmet basic psychological needs), seperti kebutuhan akan penerimaan sosial, rasa aman, serta harga diri. Ketika seseorang mengalami kecemasan internal atau rasa tidak aman (insecurity) mengenai posisinya, mereka menggunakan taktik bermuka dua sebagai mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanism). Dengan menjatuhkan orang lain di belakang layar, mereka secara ilusi merasa lebih unggul tanpa harus berhadapan langsung secara terbuka.
Kedua, hal ini dipicu oleh dinamika polarisasi “KITA vs MEREKA” (sebagaimana diuraikan dalam kajian psikologi zona konflik oleh APA Monitor). Individu yang bermuka dua cenderung membagi lingkaran sosialnya secara manipulatif. Mereka menampilkan “wajah manis” kepada kelompok tertentu untuk mendapatkan validasi, sembari menyebarkan narasi bohong tentang orang luar demi memperkuat dominasi sosial atau sekadar memuaskan hasrat kendali (desire for control).
2. Dalam Penjelmaan “Adu Domba” (Namimah): Taktik Manipulasi Asimetris
Ekskalasi paling merusak dari orang bermuka dua adalah perilaku mengadu domba (namimah). Dalam pandangan Islam, namimah dikategorikan sebagai dosa besar yang diancam haram masuk surga (HR. Muslim 151). Mengapa dampaknya sedemikian fatal? Karena adu domba menghancurkan fondasi paling mendasar dalam hubungan manusia: kepercayaan (trust) dan persaudaraan (ukhuwah).
Secara sains sosial, adu domba adalah bentuk relational aggression yang sangat asimetris. Pelaku bermuka dua sengaja menciptakan “kebohongan yang dirancang” (fabricated narratives) untuk memicu benturan antara Pihak A dan Pihak B. Keunikannya terletak pada tiadanya risiko langsung bagi si pelaku: ia tidak kehilangan apa pun, tidak dirugikan apa pun, namun ia mendapatkan kepuasan toksik saat menyaksikan hubungan orang lain retak. Praktik ini bergeser dari gosip konvensional menjadi pembunuhan karakter sistematis, yang di era digital semakin diperparah oleh anonimitas media sosial (Stokols, 2018).
3. Fenomena di Lingkungan Kerja & Potensi Efek Penularan (Incivility Spiral)
Di dunia kerja, workplace incivility bermanifestasi sebagai perilaku menyimpang berintensitas rendah (low-intensity deviant behavior), seperti sindiran berwajah manis, pura-pura mendukung saat rapat namun menjatuhkan di belakang, hingga menyembunyikan informasi penting. Tinjauan riset dalam Annual Review of Organizational Psychology mencatat bahwa lebih dari 75% karyawan pernah menjadi korban ketidaksopanan organisasi.
Yang paling berbahaya, riset ilmiah menemukan adanya efek penularan (contagion effect) yang sangat kuat: menjadi korban incivility di tempat kerja secara signifikan memicu seseorang untuk berbalik menjadi pelaku (instigated incivility). Ketika seorang pegawai terus-menerus disasar oleh gosip, adu domba, atau kebohongan bermuka dua dari rekan atau atasannya, rasa aman psikologisnya runtuh. Stres dan rasa tidak adil yang menumpuk membuat korban menyerap pola perilaku toksik tersebut sebagai sarana pertahanan diri. Akibatnya, mereka mulai ikut-ikutan bermuka dua, menyebar rumor, dan mengadu domba pihak lain menciptakan lingkaran setan (incivility spiral) yang meracuni seluruh budaya organisasi.
Referensi:
- Stokols, D. (2018). Social Ecology in the Digital Age: Solving Complex Problems in a Globalized World. Academic Press / Elsevier. (ISBN: 9780128031131).
- Vicki J. Magley, Dana Kabat-Farr, Madison A. Malcore, Benjamin M. Walsh. 2026. Workplace Incivility. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior 13:337-361. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-020924-072249
- Antoci A, Delfino A, Paglieri F, Panebianco F, Sabatini F (2016) Civility vs. Incivility in Online Social Interactions: An Evolutionary Approach. PLoS ONE 11(11): e0164286. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0164286
- Abrams, Z. (2025, March 1). What the psychology of conflict zones can teach us about incivility. Monitor on Psychology, 56(2). https://www.apa.org/monitor/2025/03/conflict-zones-incivility

