Ketika pertama kali menyaksikan aksi Thanos memusnahkan separuh populasi alam semesta dalam film Avengers: Infinity War, sebagian besar dari kita tentu melihatnya sebagai sosok penjahat super dengan logika yang gila. Namun, jika kita mengupas motif di balik aksinya dari kacamata ilmu ekonomi, menurut saya Thanos sebenarnya sedang menyuarakan sebuah kecemasan klasik yang sangat mendasar, yaitu ketakutan akan daya dukung lingkungan yang tidak lagi sanggup menopang pertumbuhan populasi manusia. Narasi fiksi ilmiah ini, dengan cara yang sangat ekstrem, mengingatkan saya pada gagasan dua pemikir besar lintas zaman yang bergerak di ruang akademis nyata, yaitu Thomas Robert Malthus dan Robert Solow. Ketiganya mengusung vision atau pandangan mendasar yang sama bahwa sumber daya yang terbatas pada akhirnya tidak akan pernah mampu diimbangi oleh pertumbuhan yang tidak terbatas, meskipun mereka menempuh mission atau cara yang jauh berbeda dalam merespons permasalahan tersebut.
Keterkaitan ini dimulai dari sosok Thomas Malthus, seorang ekonom dan demografer abad ke-18 yang menurut saya merupakan cikal bakal dari pemikiran Thanos. Dalam karyanya yang terkenal, Malthus berargumen bahwa populasi manusia cenderung tumbuh secara geometris atau eksponensial, sementara produksi pangan dan sumber daya alam hanya mampu meningkat secara aritmetika atau linier. Menurut pandangan saya, garis logika Malthus sangat lurus, yang berarti akan tiba suatu titik kritis di mana jumlah mulut yang harus diberi makan jauh melampaui kemampuan bumi untuk menyediakan hasilnya. Jika manusia tidak mampu membatasi pertumbuhannya secara mandiri, Malthus memprediksi bahwa alam akan mengambil alih melalui apa yang dikenal sebagai fenomena Malthusian trap, yaitu sebuah kondisi tragis di mana kelaparan, wabah penyakit, dan perang membalikkan keadaan secara paksa. Thanos dalam konteks ini pada dasarnya adalah bentuk aksi nyata dari ancaman tersebut. Bedanya terletak pada misi yang diambil, di mana ketimbang menunggu bencana alam menghancurkan suatu peradaban, ia memilih untuk mengambil tindakan dramatis demi mempertahankan sisa kehidupan yang ada.
Namun, kritik terhadap Malthus sering kali muncul karena ia dianggap terlalu pesimistis dan mengabaikan peran teknologi. Di sinilah menurut saya kontribusi Robert Solow, sang peraih Nobel Ekonomi, menjadi sangat krusial untuk melengkapi pilar pemikiran ini. Melalui Solow-Swan Growth Model, Solow mencoba membedah bagaimana sebuah perekonomian tumbuh secara jangka panjang. Solow menemukan bahwa akumulasi modal dan tambahan tenaga kerja saja tidak akan cukup untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus karena adanya hukum hasil yang semakin menurun atau diminishing returns. Tanpa adanya peningkatan efisiensi yang didorong oleh kemajuan teknologi, ekonomi pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh yang disebut steady state, yaitu kondisi di mana pertumbuhan berhenti total. Saya menilai bahwa model Solow secara tersirat menegaskan batas fisik perekonomian, bahwa jika kita hanya mengandalkan sumber daya fisik yang ada tanpa adanya efisiensi atau inovasi radikal, sistem ekonomi akan menemui tembok tebal berupa stagnasi.
Melalui perbandingan ini, saya melihat sebuah benang merah yang sangat kuat di antara ketiganya. Malthus memperingatkan kita tentang ancaman fisik berupa krisis pangan dan ketimpangan populasi, Solow memodelkan secara matematis keterbatasan modal fisik dalam mempertahankan pertumbuhan tanpa efisiensi baru, dan Thanos membawa konsekuensi tersebut ke tingkat ekstrem sebagai ancaman kepunahan kosmik. Menurut pendapat saya, ketiganya memiliki visi pemikiran yang sejalan, yaitu menolak ilusi bahwa pertumbuhan ekonomi maupun populasi dapat terus berlangsung secara linier di atas planet yang memiliki batas-batas fisik yang nyata.
Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa perdebatan ini bukan sekadar diskusi teoritis di ruang kuliah atau sekadar ide cerita di layar lebar, melainkan cermin bagi realitas dunia kita saat ini. Kita sering kali hidup dalam ekspektasi bahwa pertumbuhan ekonomi harus selalu naik setiap tahunnya, sembari menutup mata terhadap krisis iklim, eksploitasi lahan, dan kelangkaan energi yang makin nyata. Kita tentu tidak bisa, dan tidak boleh, mengadopsi misi destruktif ala Thanos untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, menurut saya, jika kita tidak mau belajar dari peringatan Malthus dan batasan-batasan modal dari Solow dengan mengalihkan fokus kita ke arah pembangunan yang berkelanjutan serta inovasi yang ramah lingkungan, bukan tidak mungkin kita sedang berjalan menuju krisis alamiah yang sama, yaitu ketika bumi sendiri yang akan mengambil alih untuk menyeimbangkan keadaan.

